Senin, 08 Desember 2014

Gunung Semeru

Gunung Semeru

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gunung Semeru

Semeru, 1985
Ketinggian3.676 meter (12.060 kaki)
DaftarRibu
Lokasi
LokasiJawa , Indonesia
Koordinat8°6′28.8″LS,112°55′12″BT
Geologi
JenisStratovolcano (aktif)
Letusan terakhir2008 (berlanjut)
Pendakian
Rute termudahGubugklakah, Burno
Gunung Semeru atau Sumeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko.
Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06' LS dan 120°55' BT.
Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 m hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang.

Perjalanan[sunting | sunting sumber]


Jembatan di jalan lewat selatan Semeru (1937)

Ranu Regulo pada tahun 1930-an
Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pergi-pulang. Untuk mendaki gunung dapat ditempuh lewat kota Malang atau Lumajang. Dari terminal Kota Malang naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan jeep atau truk/pickup yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang dengan biaya per orang Rp20.000,00 hingga Pos Ranu Pani.
Sebelumnya mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat izin, dengan perincian, biaya surat izin Rp6.000,00 untuk maksimal 10 orang, Karcis masuk taman Rp2.000,00 per orang, Asuransi per orang Rp2.000,00
Dengan menggunakan truk sayuran atau jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani, desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Bagi pendaki yang membawa tenda dikenakan biaya Rp 20.000,00/tenda dan apabila membawa kamera juga dikenakan biaya Rp 5.000,00/buah. Di pos ini pun dapat mencari portir (warga lokal untuk membantu menunjukkan arah pendakian, mengangkat barang dan memasak). Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni Ranu Pani (1 ha) dan Ranu Regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.
Setelah sampai di gapura "selamat datang", memperhatikan terus ke kiri ke arah bukit, tapi jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam.
Jalur awal landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100 m. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting di atas kepala.
Setelah berjalan sekitar 5 km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi bunga edelweis, lalu akan sampai di Watu Rejeng. Di sini terdapat batu terjal yang sangat indah. Pemandangan sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadangkala dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 km.

Ranu Kumbolo
Di Ranu Kumbolo dapat didirikan tenda. Juga terdapat pondok pendaki (shelter). Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan indah terutama di pagi hari dapat menyaksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.
Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kemudian mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah di belakang ke arah danau. Di depan bukit terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Selanjutnya memasuki hutan cemara di mana kadang dijumpai burung dan kijang. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.
Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini dapat mendirikan tenda untuk beristirahat. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.
Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung.
Untuk menuju Arcopodo berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya akan melewati bukit pasir.
Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Sebagai panduan perjalanan, di jalur ini juga terdapat beberapa bendera segitiga kecil berwarna merah. Semua barang bawaan sebaiknya tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo.
Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.
Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.

Gas beracun[sunting | sunting sumber]


Puncak Mahameru
3 Java Vulkan Semeru näher Rauchwolke.JPG
Di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Gas beracun ini dikenal dengan sebutan Wedhus Gembel (Bahasa Jawa yang berarti "kambing gimbal", yakni kambing yang berbulu seperti rambut gimbal) oleh penduduk setempat. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 - 10 derajat Celsius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajat Celsius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember - Januari sering ada badai.
Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan November1997 Gunung Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.
Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Material yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gunung Semeru dan telah memakan beberapa korban jiwa, walaupun pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.
Soe Hok Gie, salah seorang tokoh aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 akibat menghirup asap beracun di Gunung Semeru. Dia meninggal bersama rekannya,Idhan Dhanvantari Lubis.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm - 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan November - April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 - 4 derajat celsius.
Suhu rata-rata berkisar antara 3°c - 8°c pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15°c - 21°c. Kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan salju kecil yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Suhu yang dingin disepanjang rute perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menyebabkan udara semakin dingin.

Taman nasional[sunting | sunting sumber]


Ranu Darungan pada tahun 1920-an
Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Ranu Darungan.
Flora yang berada di wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, akasia, pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong dan Edelwiss putih, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.
Banyak fauna yang menghuni gunung Semeru antara lain : macan kumbang, budeng, luwak, kijang, kancil, dll. Sedangkan di Ranu Kumbolo terdapat belibis yang masih hidup liar.

Pendaki pertama[sunting | sunting sumber]


Litografi berdasarkan lukisan Abraham Salmdengan pemandangan desa dan latar belakang Gunung Semeru (1865-1872)
Orang pertama yang mendaki gunung ini adalah Clignet (1838) seorang ahli geologi berkebangsaan Belandadari sebelah barat daya lewat Widodaren, selanjutnya Junhuhn (1945) seorang ahli botani berkebangsaan Belanda dari utara lewat gunung Ayek-ayek, gunung Inder-inder dan gunung Kepolo. Tahun 1911 Van Gogh dan Heim lewat lereng utara dan setelah 1945 umumnya pendakian dilakukan lewat lereng utara melalui Ranupane dan Ranu Kumbolo seperti sekarang ini.

Legenda gunung Semeru[sunting | sunting sumber]

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa berguncang. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Merudi India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.
Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan gunung Meru yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.
Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung di antara bumi (manusia) dan Kayangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan mahluk halus.

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Semeru

Gunung Kelud

Gunung Kelud - Kediri

Gunung Kelud merupakan gunung berapi yang masih aktif yang terletak di Kediri Jawa Timur. 

Selain terkenal dengan tiga puncaknya, gunung Kelud juga menyimpan beberapa misteri yang terkadang sulit di cerna logika. 

Misalnya terdapat jalan misterius dan ada kisah sebuah pengkhianatan cinta antara Putri Raja Kediri dan Lembu Suro.




Gunung ini berlokasi di antara Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang, Jawa Timur. Alkisah Gunung Kelud tak lepas dari sejarah yang terjadi pada masa Kerajaan Kadiri. 

Saat itu Putri Raja Kadiri, Dewi Kilisuci dilamar oleh 2 raja yang bukan dari bangsa manusia, yakni Lembu Suro dan Mahesa Suro. 

Namun, dengan segala tipu dayanya Dewi Kilisuci berhasil menghindari pinangan dari kedua raja tersebut.

Atas kegagalan dan tipu daya Dewi Kilisuci itulah, Lembu Suro sempat mengucapkan kutukan kepada orang Kadiri. 


"Yoh wong Kadiri, mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping, yoiku Kadiri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung," kutuk Lembu Suro.

Arti dari kutukan ini adalah "Ya, orang Kadiri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. 


Kadiri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan, dan Tulungagung menjadi danau." 

Itulah sepenggal cerita rakyat yang mendasari kalau letusan Gunung Kelud merupakan akibat amarah dari Lembu Suro. 
Kawasan Wisata Gunung Kelud berada pada wilayah administratif Kabupaten Kediri. Udara di kawasan ini sangat sejuk karena berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. 

Kelud tak hanya terkenal karena suguhan 3 puncak gunungnya, yaitu Puncak Gajah Mungkur di sisi barat, Puncak Kelud di sisi timur laut dan Puncak Sumbing di sisi selatan.

Bahkan, sebelum menuju gerbang wisata Gunung Kelud terdapat Mysterious Road yaitu jalanan yang bisa membuat kendaraan berjalan sendiri meski kita sudah menghentikannya.

Lebih dari itu, Kelud juga menawarkan wisata bertualang melintasi Terowongan Ampera. 


Dengan lampu seadanya, kita akan dibawa ke dalam nuansa mencekam sebelum akhirnya bisa menikmati indahnya pemandangan ilalang dan 3 puncak gunung sekaligus dalam satu landskap. 


asih kurang? Jajal kekuatan kaki Anda dengan mendaki sekitar 600 - an anak tangga menuju puncak Gajah Mungkur. 

Dari sana Anda bisa menyaksikan sendiri pemandangan ciamik dari atas. Nikmati sejuknya udara dan pemandangan serba hijau di sekitar Anda.

Setiap detil keunikan anak Gunung Kelud siap membuat Anda takjub. 


Apalagi jika disaksikan saat malam hari, anak Gunung Kelud seperti bermandikan cahaya lampu. Ini baru saja dibuka oleh Bupati Kediri.

Lelah setelah mendaki puncak Gajah Mungkur, sempatkan diri Anda untuk mengunjungi aliran air panas yang bisa mengobati rasa pegal dan kram di kaki. 


Namun, untuk mencapai ke sana Anda harus menuruni sebanyak 1.000 anak tangga. Dahsyat!

 Untuk mencapai kawasan wisata Gunung Kelud hanya ada satu jalur, yaitu melalui Kecamatan Ngacar, Kediri. 

Jalur ini berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat Kota Kediri. 

Jalan mencapai kawasan wisata Gunung Kelud cukup mulus meskipun sempit. 

Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat melihat pemandangan indah berupa ladang, lembah, dan bukit hijau. 

Pohon nanas adalah tanaman yang paling dominan di sepanjang perjalanan.

Untuk memasuki kawasan wisata, pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp 8.000 pada hari biasa dan Rp 10.000 pada hari libur. 


Sedangkan tarif masuk kendaraan adalah sebesar Rp 1.000 untuk sepeda motor dan Rp 2.000 untuk mobil, harga yang ekonomis

 Sumber : http://bambangtjio4.blogspot.com/

Kamis, 30 Oktober 2014

PAPUMA BEACH

Letak pantai papuma sebagai berikut : letaknya di kurang lebih 38 kilo dari kota jember, ke arah selatan. Papuma sebagai singkatan dari pasir putih malikan. Pasir pantainya memang berwarna putih dan memiliki karakarakter atau citra pasir yang mirip dengan telur. Pantai ini memiliki luar kurang lebih 35 hektar, garis pantai diawali dengan titik puncak tanjung papuma dang melingkat sepanjang 25 kilometer.
Untuk menuju papuma anda bisa menggunakan kendaraan pribadi karena seperti angkutan umum masih sedikit, sehingga sebaiknya anda menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan sendiri.


Pantai ini memiliki daya tarik luar biasa, diantarannya ;
1. Siti Hinggil, wisatawaan dapat menikmati pesona keindahan laut dari siti hinggil yang lokasinya berada diketinggian 100m dari permukaan laut

2. Keindahaan alam, keindahan alam akan menyambut setiap pengunjung.

3. Guwa lawa, kedalaman kurang lebih 30m yang dapat dicapai pada saat air laut surut.

Pemandangan alam dipantai papuma masih dibilang cukup asli dan belum banyak tercemar. Gugusan hutan vegetasi dan pohon pantan mempercantik tepian pantai.

Fasilitas pantai ini juga terbilang cukup lengkap, seperti pantai berkelas lainya, berikut beberapa fasilitas yang bisa anda temukan di pantai papuma :
- Kios Makanan
- Kios Souvenir
- Shelter
- Listrik/Air
- Musholla
- Jalan Aspal
- Jalan Lintas dan Pendakian
- Tempat Istirahat/Balairung
- Bumi Perkemahan
- Gazebo
- Playground
- MCK
- Telepon Umum
- Areal Parkir
- Gazebo
- Playground
Pantai yang nyaman dan asri ini sering digunakan untuk berjemur oleh wisatawan lokal maupun wisatawan luar negeri, ada banyak pemandangan yang bisa dinikmati, berjemur di atas pasir putih adalah hal yang sangat menenangkan. Pantai ini juga menyimpan kekayaan fauna. Pantai Papuma juga kaya akan fauna seperti Biawak, Ayam Alas, burung-burung dengan ragam jenisnya, Babi Hutan, Rusa, Landak dan Trenggiling.
Untuk lebih menambah kesempurnaan dalam menikmati panorama alam, di Papuma disediakan penginapan dan rumah makan yang menyediakan makanan Indonesia dan makanan Ikan bakar khas papuma